Matos

TKDN Bioremediation: No.619/SJ-IND.7/TKDN/VIII/2011
SKT Migas: No. 0465/SKT-02/DMT2011
SKUP Migas: No.28820/19.07/DMB/2011

Setiap tahun kebutuhan minyak bumi  terus mengalami peningkatan  seiring dengan tingginya kebutuhan energi sebagai akibat kemajuan  teknologi dan kebutuhan  hidup manusia, sehingga potensi pencemaran oleh minyak bumi juga meningkat. Tumpahan minyak dan kebocoran pipa dalam jumlah   tertentu   dengan   luas   dan   kondisi   tertentu,  apabila   tidak   dikendalikan   atau ditanggulangi  dengan  cepat  dan  tepat  dapat  mengakibatkan  terjadinya  suatu malapetaka “pencemaran lingkungan oleh minyak” yaitu kualitas  lingkungan tersebut turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Tanah   yang   terkontaminasi   minyak   tersebut   dapat   merusak   lingkungan   serta menurunkan estetika. Lebih dari itu tanah yang terkontaminasi limbah minyak dikategorikan sebagai  limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) sesuai dengan Kep. Menteri Linkungan Hidup 128 Tahun 2003. Oleh  karena  itu  perlu  dilakukan  pengelolaan  dan  pengolahan  terhadap  tanah  yang terkontaminasi  minyak.  Hal  ini  dilakukan  untuk  mencegah  penyebaran  dan  penyerapan minyak kedalam tanah.Untuk menangani tanah yang terkontaminasi  oleh minyak  tersebut, PT. WATUKALI CAPITA CIPTAMA memiliki strain bakteri ini dikembangkan dari bakteri pendegradasi hidrokarbon di tanah dan strain bakteri ini telah dikembangkan dan mampu mendegradasi hidrokarbon di air laut. Berdasarkan strain bakteri yang di miliki, untuk menangani lahan baik di darat maupun di laut yang terkontaminasi, kami menawarkan sebuah proses pengolahan lahan yang tercemar tersebut dengan  “ Teknologi Bioremediasi “.

Teknologi Bioremediasi, Upaya pengolahan limbah B3 baik di darat (tanah dan air tanah) ataupun di laut telah banyak dilakukan dengan menggunakan tehnik ataupun metoda konvensional dalam mengatasi pencemaran seperti dengan cara membakar (incinerasi), menimbun (landfill), menginjeksikan kembali sludge keformas minyak (slurry fracture injection) dan memadatkan limbah (solidification). Teknologi-teknologi ini dianggap tidak efektif dari segi biaya (cost effective technology), waktu (time consuming) dan juga keamanan (risk). Bioremediasi didefinisikan sebagai proses penguraian limbah organik/anorganik polutan secara biologi dalam kondisi terkendali dengan tujuan mengontrol, mereduksi atau bahkan mereduksi bahan pencemar dari lingkungan. Kelebihan teknologi ini ditinjau dari aspek komersil adalah relatif lebih ramah lingkungan, biaya penanganan yang relatif lebih murah dan bersifat fleksibel. Teknik pengolahan limbah jenis B3 dengan bioremediasi umumnya menggunakan mikroorganisme (khamir, fungi, dan bakteri) sebagai agen bioremediator. Pendekatan umum yang dilakukan untuk meningkatkan kecepatan biotransformasi ataupun biodegradasi adalah dengan cara:

  • Seeding, atau mengoptimalkan populasi dan aktivitas mikroba indigenous (bioremediasi instrinsik) dan/atau penambahan mikroorganisme exogenous (bioaugmentasi) dan
  • Feeding, atau dengan memodifikasi lingkungan dengan penambahan nutrisi (biostimulasi) dan aerasi (bioventing). Penanganan bioremediasi dapat dilakukan secara in situ ataupun ex situ, faktor-faktor penting untuk menjamin kondisi mikroorganisma dapat tumbuh dan berkembangbiak adalah ketersediaan oksigen, kandungan nutrisi, pH dan kelembaban. Kelebihan spesifik dari senyawa hidrokarbon dibanding bahan pencemar lain (ex. Logam berat) adalah penggunaannya sebagai sumber karbon sebagai pembentuk biomassa dan sumber energi untuk melangsungkan metabolisme oleh mikroorganisma. Nitrogen dan Phosphore adalah nutrisi utama bagi organisme dan didalam air laut kedua unsure ini adalah faktor pembatas pertumbuhan mikroorganisma.
Penanggulangan Tumpahan Minyak di Laut 
Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya:
  1. In-situ burning,
  2. Penyisihan secara mekanis,
  3. Bioremediasi,
  4. Penggunaan sorbent
  5. Penggunaan bahan kimia dispersan.
Setiap teknik ini memiliki laju penyisihan minyak berbeda dan hanya efektif pada kondisi tertentu.
In-situ burning adalah pembakaran minyak pada permukaan air sehingga mampu mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan laut, penyimpanan dan pewadahan minyak serta air laut yang terasosiasi, yang dijumpai dalam teknik penyisihan secara fisik. Cara ini membutuhkan ketersediaan booms (pembatas untuk mencegah penyebaran minyak) atau barrier yang tahan api.
Cara kedua yaitu penyisihan minyak secara mekanis melalui dua tahap yaitu melokalisir tumpahan dengan menggunakan booms dan melakukan pemindahan minyak ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan mekanis yang disebutskimmer.
Cara ketiga adalah bioremediasi yaitu mempercepat proses yang terjadi secara alami, misalkan dengan menambahkan nutrien, sehingga terjadi konversi sejumlah komponen menjadi produk yang kurang berbahaya seperti CO2 , air dan biomass.
Cara keempat dengan menggunakan sorbent yang bisa menyisihkan minyak melalui mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pada permukaan sorbent) dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini berfungsi mengubah fasa minyak dari cair menjadi padat sehingga mudah dikumpulkan dan disisihkan. Sorbent harus memiliki karakteristik hidrofobik, oleofobik dan mudah disebarkan di permukaan minyak, diambil kembali dan digunakan ulang.
Cara kelima dengan menggunakan dispersan kimiawi yaitu dengan memecah lapisan minyak menjadi tetesan kecil (droplet) sehingga mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke dalam tumpahan. Dispersan kimiawi adalah bahan kimia dengan zat aktif yang disebut surfaktan (berasal dari kata : surfactants = surface-active agents atau zat aktif permukaan).Peluang kedepan adalah pengembangan green business yang berbasis pada teknologi bioremediasi dengan system one top solution (close system) dan dengan pendekatan multiproses remediation technologies, artinya pemulihan (remediasi) kondisi lingkungan yang terdegradasi dapat diteruskan sampai kepada kondisi lingkungan seperti kondisi awal sebelum kontaminasi ataupun pencemaran terjadi. Usaha mencapai total grenning program ini dapat dilanjutkan dengan rehabilitasi lahan dengan melakukan kegiatan phytoremediasi dan penghijauan (vegetation establishement) untuk lebih efektif dalam mereduksi, mengkonrol atau bahkan mengeliminasi B3 hasil bioremediasi kepada tingkatan yang sangat aman lagi buat lingkungan. Dengan keseluruhan rangkaian proses dari mulai limbah dikeluarkan, bioremediasi, phytoremediasi dan pembentukan vegetasi adalah greening program yang merupakan bentuk pengelolaan limbah B3 secara terpadu (integrated waste management). Biasanya greening program juga merupakan salah satu bentuk aktifitas community development dari perusahaan-perusahan. Untuk wilayah pesisir dan pantai greening program dapat berupa penanaman kembali bibit mangrove dan vegetasi pantai lain ataupun program lain seperti artificial reef, fish shelter ataupun reef transplantation.